" Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS.Arrahman 19-21)

Semua Tentang Kita ...

Kamis, November 06, 2008

Berhenti berharap pada Obama

Oleh wongbanyumas

Barrack Husein Obama, satu nama yang belakangan ini terus bergema keseluruh antero dunia. Namanya mulai dikenal ketika ia menjadi senator. Pada hari kamis tanggal 6 november obama memenangkan pemilihan presiden di Amerika. Perolehan suara Obama berhasil mengungguli saingannya yakni John mc Cain yang didampingi wapres sarah palin. Kemenangan Obama ini sudah diprediksi banyak pihak sejak masa kampanye pilpres Amerika. Sebagai pria berkulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika ke -44 Obama mencatatkan sejarah besar bagi bangsa kulit hitam.

Setelah berhasil memenangkan Pilpres Amerika ada banyak spekulasi yang beredar dalam masyarakat international mengenai Obama. Sebelumnya Obama diisyukan sebagai seorang muslim karena nama tengahnya yang bertajuk husein. Menghabiskan masa kecilnya di Jakarta Obama secara langsung telah mengenal jauh negeri kita, Indonesia.

Namun ada sebuah ironi ketika banyak masyarakat Indonesia yang berharap bahwa Obama akan memperhatikan Indonesia. Meskipun menghabiskan masa kecilnya di Jakarta belum tentu pikiran Obama masih ingat dengan negeri ini. Perlu diingat bahwa Obama kini bukanlah Obama sebagai personal, melainkan Obama sebagai presiden Amerika. Sebagai seorang presiden tentunya ia tidak sesenaknya merumuskan kebijakan.

Sebagian besar orang berharap bahwa kemenangan dirinya akan mempengaruhi hubungan diplomatic antara Amerika dengan Indonesia serta negara islam lain di dunia. Harapan itu memang boleh akan tetapi jangan terlalu menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti. Semisal pun Obama masih mengingat masa kecilnya di Indonesia itu pun hanya sekedar romantisme belaka. Bukan berarti bayangan serta kenangan masa lalu akan mempengaruhi kebijakan luar negerinya.

Sebab kita pahami sendiri bahwa Amerika sedang diancam oleh krisis global yang mulai menelan Amerika beserta sistem kapitalistiknya. Seperti group music SOA bilang Amerika dengan kufuristic ideology akan hancur seiring zaman. Bahkan hal yang aneh sekalipun pemimpin negeri ini meng”iba” pada Obama agar lebih “ramah” terhadap Indonesia. Tingkah laku Yodhoyono-Kalla ini tak jauhnya mentalitas babu. Dimana selalu mengharapkan sang majikan untuk berbaik hati.

Tak dipungkiri lagi bahwa tingkat ketergantungan Indonesia terhadap Amerika sangatlah besar. Kemandirian ekonomi terutama sudah tidak dimiliki lagi oleh Negara kita. Setiap ada peristiw di wall street akan mempengaruhi perekonomian Negara ini. Mungkin kini yudhoyono sudah merasa ditinggalkan tuannya (Bush) yang hampir mengakhiri masa jabatannya. SBY adalah peliharaan Amerika, sepintas ungkapan itu berkelebat dalam benak saya. Hal tersebut dibuktikan ketika SBY menyatakan bahwa “America is my second country”. Naudzubillah mengaku mencintai Amerika lebih dari rakyat Indonesia yang kelaparan.

Sudahlah mari hentikan harapan kita yang terlalu besar pada Obama. Biarkan Obama mengurus negerinya. Momentum pergantian presiden AS hendknya menjadi batu loncatan untuk memulai hubungan diplomatic yang baru. Memperlakukan Negara lain secara sejajar dan sebagai mitra bukan sebagai subordinat dari Negara lain. Harapan itu masih ada.

Tidak ada komentar: