Oleh wongbanyumas
Bangsa yang besar adalah bangsa yang memilki kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Sebuah peradaban dalam suatu bangsa ditentukan oleh tingkat kecerdasan dan pendidikan bangsa tersebut. Semakin tinggi kecerdasan suatu bangsa maka akan menghasilkan suatu kebudayaan dengan citarasa yang tinggi. Tengoklah keudayaan mohenjo daro-harappa di India, kebudayaan mesir kuno, kebudayaan suku Aztec di Amazon, serta berbagai kebudayaan lainnya di dunia. Bangsa Indonesia sendiri mempunyai catatan sejarah besar mengenai perkembangan kebudayaannya.
Secara umum kebudayaan besar bangsa Indonesia mencapai puncaknya pada masa kerajaan Hindu-Budha dan pada masa kerajaan Islam nusantara. Pada masa itu bangsa Indonesia mencapai taraf tertinggi dalam pemikiran. Namun seiring perkembangan zaman trend tersebut berubah drastic. Indonesia kini hanyalah Negara “terbelakang” dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, hukum, sosial, bahkan akhlak sekalipun bangsa ini sudah menjadi yang terbelakang.
Kuatnya arus globalisasi yang menerpa anak bangsa mengakibatkab kelimbungan yang luar biasa. Ibarat seorang petinju yang dihajar dari berbagai sisi Indonesia sudah hampir KO dan terkapar berdarah-darah. Banyaknya nilai asing yang masuk membuat kita semakin kehilangan jatidiri dan identitas sebagai sebuah bangsa. Paling menyedihkan adalah sebagian besar anak bangsa sudah hilang akal sehat. Tekanan ekonomi dan tingginya biaya hidup menciptakan suatu kondisi yang menimbulkan depresi sosial.
Hilangnya akal sehat membuat kita tidak lagi dapat berfikir jernih. Pada era ekonomi yang sulit seperti sekarang banyak orang yang mengharapkan keajaiban instan. Salah satu indikator paling nyata adalah banyaknya iklan “orang pintar” di televisi. Para “orang pintar” alias paranormal (orang yang tidak normal) ini menjual jasanya melalui layanan SMS. Ketik reg spasi mantra, ketik reg spasi weton, ketik reg spasi primbon dan banyak lagi iklan sejenis kiat saksikan di layar kaca kita tiap hari. Jasa yang mereka tawarkan terlihat sangat sepele namun sangat membuai anda. Bayangkan dengan hanya mengetik reg spasi……. Anda akan dituntun untuk mencapai kesuksesan anda. Bahkan ada yang sesumbar akan merubah pola pikir (brain storming) kita agar menjadi orang sukses.
Semudah itukah? Tidak sama sekali. Jangan pernah bayangkan anda sukses hanya karena mengikuti SMS tersebut. “hari ini jangan ngutang” itu bunyi salah satu iklan layanan palsu tersebut. Enak benar mereka mengatur hidup seseorang seolah mereka adalah raja atau bahkan bak tuhan yang mampu menentukan nasib dan mengatur hidup manusia. Kini rasio dan akal kita dipertanyakan. Jangan sampai hanya karena tekanan finansial kita menggadaikan logika dan iman kita untuk hal murahan seperti itu.
Yang patut dicermati dari praktek layanan SMS tersebut adalah bentuk lain dari praktek perdukunan. Sebagai orang Islam saya hanya mencoba mengingatkan saja. Bahwa orang yang mempercayai praktek perdukunan adalah orang yang musyrik alias menyekutukan tuhan. Jika sudah dikategorikan sebagai tindakan syirik maka sudah pasti azab dan siksa yang pedih akan menanti kita. Bahkan Rasulullah sendiri sering melarang kita untuk mempercayai dukun dalam berbagai haditsnya.
Selain dari sudut pandang agama kita juga harus melihat dari aspek finansial. Kita mencoba melakukan hitung-hitungan kasar. Dalam satu hari SMS akan dikirim sebanyak dua kali dengan tarif RP 2.000 per SMS. Berarti dalam satu hari anda menghabiskan uang sebanyak RP 4.000 hanya untuk “konsultasi” singkat macam itu. Maka dalam sebulan anda menghabiskan pulsa sebanyak RP 120.000. Jumlah yang sangat banyak tentunya jika menilik kondisi finansial kebanyakan penduduk Indonesia. Hal ini tentunya hanya menguntungkan para provider. Apa yang anda dapatkan hanyalah SMS sampah yang tidak bermanfaat. Malah yang terjadi adalah kerugian besar bagi anda ketika uang anda terkuras namun janji manis itu tak kunjung datang.
Sebagai bangsa yang besar sudah seharusnya kita semakin dewasa untuk berfikir. Mampu membedakan antara realita dengan buaian mimpi semu belaka. Bukan berarti saya melarang anda untuk jadi pelanggan layanan SMS ajaib tersebut. Tetapi mencoba mengajak anda untuk berfikir cerdas dan jangan gegabah ketika diiming-imingi mimpi semu.
Semua Tentang Kita ...
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 16, 2008
Belajar untuk kalah
Oleh Wongbanyumas
Dalam sebuah persaingan atau kompetisi hanya ada dua pilihan yakni menang atau kalah. Hanya ada dua opsi itulah yang ada. Hasil imbang tentunya bukan hasil yang baik karena memberikan pembenaran ketika kerja kita kurang maksimal. Dalam kompetisi juga ada pilihan yakni terhormat atau dinistakan. Kehormatan yang kita dapatkan karena menang secara jujur dan kalah dengan sportif. Menang secara jujur seharusnya menjadi asas yang dipegang oleh setiap orang yang berkompetisi. Begitupun ketika kalah, kita juga harus memberikan apresiasi positif kepada kompetitor kita meskipun kita telah dikalahkan. Saya teringat kata-kata bijak “kekalahan kita hari ini adalah bekal kemenangan kita di esok hari”.
Mencermati kompetisi yang terjadi dalam masyarakat seringkali saya menemukan minimnya sikap fair play. Sikap yang mampu menghadirkan seorang juara sejati yang mampu menerima kekalahan dengan ikhlas dan lapang dada. Kalah bukan berarti akhir dari segalanya dan mimpi buruk bagi kita. Mencoba mencermati pada momentum yang sering terjadi belakangan ini yakni pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pertandingan sepak bola. Berdasarkan pengamatan terhadap dua fenomena sosial tersebut terlihat bahwa bangsa ini belum siap untuk sebuah kemenangan.
Sebuah kekalahan bagi sebagian besar kita teras amat menyakitkan. Namun sesungguhnya itulah kemenangan kita ketika kita berhasil memenej emosi dan amarah kita. Kita belum siap untuk menang karena masih belum siap untuk kalah. Juara sejati adalah orang yang mampu tersenyum ketika ia kalah.
Lagi-lagi kita harus mencontoh bangsa lain dalam hal ini. Cobalah kita tengok pertandingan sepak bola liga inggris antara Chelsea melawan Manchester United. Meskipun keduanya saling berseteru di lapangan hijau namun masing-masing saling dapat menerima kekalahan. Berbeda dengan tim sepak bola kita yang agak kampungan. Sangat sulit bagi supporter klub kita untuk menerima kekalahan dari lawan. Bahkan seorang pengurus klub sebesar PSIS semarang sekalipun tak dapat menahan emosi ketika klubnya takluk dari lawan. Dengan enaknya ia meninju wasit sang pengadil lapangan. Sudah selayaknya yoyok dilabeli sebagai wong edan karena bersikap tidak fair.
Contoh kecil lainya adalah pilkada Jatim antara pasangan Khofifah versus pasangan Gus Ipul. Pada pilkada putaran pertama pasangan Khofifah menang. Namun pada pilkada putaran kedua Khofifah kalah tipis dari Gus Ipul. Apa yang terjadi ketika khofifah kalah adalah mengajukan gugatan atas kekalahannya. Langkah tersebut terlihat lucu. Saya sendiri bertanya mengapa ia mengajukan gugatan ketika dalam posisi kalah. Berbeda dengan pemilihan presiden AS ketika Mc Cain secara jantan mengucapkan selamat dan mengakui kakalahannya atas Barrack Obama. Di Indonesia ada contoh positif yakni Pilkada Jakarta. Pasangan Adang-Dani secara sportif memberikan selamat kepada Fauzi-Priyanto.
Sepak bola dan pilkada hanya sebuah gambaran kecil mengenai ketidaksiapan kita untuk kalah. Kita haruss banyak belajar untuk kalah. Bagaimana kita memaknai kekalahan sebagai bahan pembelajaran penting yang dapat memacu kita untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Dalam sebuah persaingan atau kompetisi hanya ada dua pilihan yakni menang atau kalah. Hanya ada dua opsi itulah yang ada. Hasil imbang tentunya bukan hasil yang baik karena memberikan pembenaran ketika kerja kita kurang maksimal. Dalam kompetisi juga ada pilihan yakni terhormat atau dinistakan. Kehormatan yang kita dapatkan karena menang secara jujur dan kalah dengan sportif. Menang secara jujur seharusnya menjadi asas yang dipegang oleh setiap orang yang berkompetisi. Begitupun ketika kalah, kita juga harus memberikan apresiasi positif kepada kompetitor kita meskipun kita telah dikalahkan. Saya teringat kata-kata bijak “kekalahan kita hari ini adalah bekal kemenangan kita di esok hari”.
Mencermati kompetisi yang terjadi dalam masyarakat seringkali saya menemukan minimnya sikap fair play. Sikap yang mampu menghadirkan seorang juara sejati yang mampu menerima kekalahan dengan ikhlas dan lapang dada. Kalah bukan berarti akhir dari segalanya dan mimpi buruk bagi kita. Mencoba mencermati pada momentum yang sering terjadi belakangan ini yakni pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pertandingan sepak bola. Berdasarkan pengamatan terhadap dua fenomena sosial tersebut terlihat bahwa bangsa ini belum siap untuk sebuah kemenangan.
Sebuah kekalahan bagi sebagian besar kita teras amat menyakitkan. Namun sesungguhnya itulah kemenangan kita ketika kita berhasil memenej emosi dan amarah kita. Kita belum siap untuk menang karena masih belum siap untuk kalah. Juara sejati adalah orang yang mampu tersenyum ketika ia kalah.
Lagi-lagi kita harus mencontoh bangsa lain dalam hal ini. Cobalah kita tengok pertandingan sepak bola liga inggris antara Chelsea melawan Manchester United. Meskipun keduanya saling berseteru di lapangan hijau namun masing-masing saling dapat menerima kekalahan. Berbeda dengan tim sepak bola kita yang agak kampungan. Sangat sulit bagi supporter klub kita untuk menerima kekalahan dari lawan. Bahkan seorang pengurus klub sebesar PSIS semarang sekalipun tak dapat menahan emosi ketika klubnya takluk dari lawan. Dengan enaknya ia meninju wasit sang pengadil lapangan. Sudah selayaknya yoyok dilabeli sebagai wong edan karena bersikap tidak fair.
Contoh kecil lainya adalah pilkada Jatim antara pasangan Khofifah versus pasangan Gus Ipul. Pada pilkada putaran pertama pasangan Khofifah menang. Namun pada pilkada putaran kedua Khofifah kalah tipis dari Gus Ipul. Apa yang terjadi ketika khofifah kalah adalah mengajukan gugatan atas kekalahannya. Langkah tersebut terlihat lucu. Saya sendiri bertanya mengapa ia mengajukan gugatan ketika dalam posisi kalah. Berbeda dengan pemilihan presiden AS ketika Mc Cain secara jantan mengucapkan selamat dan mengakui kakalahannya atas Barrack Obama. Di Indonesia ada contoh positif yakni Pilkada Jakarta. Pasangan Adang-Dani secara sportif memberikan selamat kepada Fauzi-Priyanto.
Sepak bola dan pilkada hanya sebuah gambaran kecil mengenai ketidaksiapan kita untuk kalah. Kita haruss banyak belajar untuk kalah. Bagaimana kita memaknai kekalahan sebagai bahan pembelajaran penting yang dapat memacu kita untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Rabu, November 05, 2008
Idealisme intelektual
Oleh Wongbanyumas
Tiap tahunnya tak kurang dari 5000 orang sarjana dengan berbagai jurusan dihasilkan oleh perguruan tinggi (PT) di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Mereka tercipta dari suatu proses pembelajaran yang sangat panjang dan melelahkan yang penuh dengan idealisme dan cita-cita. Ini menandakan bahwa semakin banyak orang yang sadar akan arti penting sebuah pendidikan. Kini muncul masalah baru setelah mereka lulus. Apakah kaum intelektual tersebut akan membuat perubahan terhadap kondisi bangsa ini sebagai agent of change yang selama ini didengungkan saat mereka masih melakukan studi atau bahkan justru menambah panjang daftar pengangguran di negeri ini. Sangat sulit menjawab hal itu saat ini. Pertanyaan di atas akan terjawab setelah beberapa tahun yang akan datang, apakah mereka akan menjadi “orang” atau hanya jadi “orang-orangan” yang patuh pada berhala duniawi.
Sampai saat ini sangat sulit untuk mencari intelektual yang masih setia terhadap idealismenya ketika sudah masuk ke dalam sebuah rantai sistem. Kaum intelektual kini sudah lupa akan idealismenya semasa berjuang bersama di ORMAS, UKM, LSM, dan berbagai organisasi lainnya. Atau malah yang terjadi adalah para intelektual telah kehilangan taring ketika berhadapan dengan ganasnya sistem. Mungkin mereka masih sadara dan ingin berteriak namun mereka terus dihalangi dengan ketakutan akan kesulitan dan kelaparan. Orientasi kaum intelektualis akan mengalami perubahan ketika akan masuk ke dalam dunia kerja. Awalnya ketika kuliah mereka berusaha untuk meneriakkan perjuangan akan kesejahteraan bagi masyarakat dan rakyat kecil, namun setelah terlilit sistem mereka hanya meneriakkan suara perut anak-istri di rumah yang menanti timbunan materi.
Sistem pendidikan di dunia pada umumnya dan indonesia secara khusus merupakan alat bagi kaum kapitalis untuk melanggengkan cengkraman mereka di dunia. Setiap orang yang belajar kini dicetak untuk memperoleh margin sebesar-besarnya tanpa pernah menggunakan hatinya untuk memikirkan perasaan orang lain. Semua dididik hanya untuk menjadi tenaga yang katanya professional, mereka dibentuk hanya untuk menghadapi persaingan di dunia kerja. Dapat kita lihat kini semua universitas memiliki tujuan hanya untuk mencetak robot-robot kapitalistik, terutama jurusan ilmu-ilmu sosial yang memang merupakan bidang paling menguntungkan.
Sekarang sudah sulit menemukan universitas yang memiliki tujuan untuk mencetak intelaktual yang kritis dan memiliki sense terhadap realita sosial. Yang ada hanyalah individu yang hanya mengharapkan pekerjaan tanpa pernah berfikir tentang menciptakan sebuah lahan pekerjaan. Perguruan tunggi pun telah menjadi semakin kapitalistik dengan pemberlakuan BHP, dimana PT membebani masyarakat yang ingin mendapat pendidikan dengan biaya siluman yang tak jelas rimbanya.
Memang sedikit-banyak ideologi dan pemikiran seseorang mempengaruhi pola pikirnya terhadap idealisme yang dianut. Sebab ideologi dan idealisme adalah yang tidak dapat dipisahkan dimana keduanya menunjukkan hubungan searah yang sinergis. Yang menjadi perhatian saat ini adalah apakah masih ada intelektual yang memiliki idealisme yang mampu membela hak-hak rakyat. Saya banyak mengamati relitas sosial bahwa saat ini mahasiswa dalam melakukan studi hanya memiliki motivasi untuk mencari gelar saja. Amat sulit menemukan orang yang mencari ilmu karena tuntutan akan hausnya dahaga pengetahuan. Idealisme bagi seorang intelektual amatlah penting sebab idelismenya -lah yang akan menentukan ingin menjadi apa di kemudian hari. Idealisme pula -lah yang akan membentuk watak dan karakter intelektual. Sebuah idealisme ibrat bagaikan pakaian yang akan menentukan identitas sang intelektual dan idelisme pulalah yang akan melindunginya dari sengatan matahari sistem. Tapi bagaimanakah idelisme itu terbentuk dalam jiwa intelektual.
Membentuk idelisme adalah cara yang mudah namun untuk mempertahankannya adalah hal yang luar biasa sulit. Dengan kita ikut berbagai organisai akan memunculkan pikiran tentang cita-cita, gagasan, dan pemikiran dalam diri kita yang pada akhirnya akan membentuk suatu idealisme. Suatu idealisme tercipata dari dua hal : pertama, idealime terbentuk dari doktrin dan pemahaman yang diberikan dan ditanamkan oleh orang lain. Idealisme seperti ini cenderung pragmatis dalam menilai sesuatu dan idelisme seperti ini akan mudah untuk hilang semudah ia menerima pernyataan doktriner; kedua, idealisme yang berdasarkan pada pencarian yang sejati melalui tukar pikiran, membaca, dan mengamati relita sosial. Idealisme ini cenderung kuat dan mantap dalam perjuangannya. Sebab sang intelektual mengalami sendi dan merasakan realita yang telah membentuk idealismenya.
Bagian tersulit adalah bagaimana mempertahankan idelisme kita. Dalam dunia kampus sendiri banyak bermunculan ideolog dan pergerakan mahasiswa yang menampilkan idealisme yang berbeda. Satu sama lain memilik bentuk tersendiri yang unik dan pluralis. Melihat hal ini jangan sekali-kali kita berpikiran sempit dengan mengkotak-kotak kan antar kelompok. Hal itu justru malah akan mempersempit sudut pandang kita. Kaum intelektual akan menjadi orang yang parsial dan cenderung subyektif dalam hal menyikapi perbedaan sudut pandang.
Idealisme adalah sebuah hal yang paling mendasar bagi mahasiswa yang katanya seorang aktivis. Seorang idealis harus dapat mempertahankan idealismenya sampai mati. Sangat percuma jika ia semasa melakukan studi selalu berteriak menyuarakan aspirasi pada pemerintah. Namun setelah lulus ia malah masuk dalam sistem yang dahulu sering ia cerca. Ironis memang jika melihat hal tersebut. Namun kita harus realistis dalam menyikapi hal tersebut. Bagaimanapun seorang idealis tidak akan mampu bertahan sampai mati.
Tiap tahunnya tak kurang dari 5000 orang sarjana dengan berbagai jurusan dihasilkan oleh perguruan tinggi (PT) di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Mereka tercipta dari suatu proses pembelajaran yang sangat panjang dan melelahkan yang penuh dengan idealisme dan cita-cita. Ini menandakan bahwa semakin banyak orang yang sadar akan arti penting sebuah pendidikan. Kini muncul masalah baru setelah mereka lulus. Apakah kaum intelektual tersebut akan membuat perubahan terhadap kondisi bangsa ini sebagai agent of change yang selama ini didengungkan saat mereka masih melakukan studi atau bahkan justru menambah panjang daftar pengangguran di negeri ini. Sangat sulit menjawab hal itu saat ini. Pertanyaan di atas akan terjawab setelah beberapa tahun yang akan datang, apakah mereka akan menjadi “orang” atau hanya jadi “orang-orangan” yang patuh pada berhala duniawi.
Sampai saat ini sangat sulit untuk mencari intelektual yang masih setia terhadap idealismenya ketika sudah masuk ke dalam sebuah rantai sistem. Kaum intelektual kini sudah lupa akan idealismenya semasa berjuang bersama di ORMAS, UKM, LSM, dan berbagai organisasi lainnya. Atau malah yang terjadi adalah para intelektual telah kehilangan taring ketika berhadapan dengan ganasnya sistem. Mungkin mereka masih sadara dan ingin berteriak namun mereka terus dihalangi dengan ketakutan akan kesulitan dan kelaparan. Orientasi kaum intelektualis akan mengalami perubahan ketika akan masuk ke dalam dunia kerja. Awalnya ketika kuliah mereka berusaha untuk meneriakkan perjuangan akan kesejahteraan bagi masyarakat dan rakyat kecil, namun setelah terlilit sistem mereka hanya meneriakkan suara perut anak-istri di rumah yang menanti timbunan materi.
Sistem pendidikan di dunia pada umumnya dan indonesia secara khusus merupakan alat bagi kaum kapitalis untuk melanggengkan cengkraman mereka di dunia. Setiap orang yang belajar kini dicetak untuk memperoleh margin sebesar-besarnya tanpa pernah menggunakan hatinya untuk memikirkan perasaan orang lain. Semua dididik hanya untuk menjadi tenaga yang katanya professional, mereka dibentuk hanya untuk menghadapi persaingan di dunia kerja. Dapat kita lihat kini semua universitas memiliki tujuan hanya untuk mencetak robot-robot kapitalistik, terutama jurusan ilmu-ilmu sosial yang memang merupakan bidang paling menguntungkan.
Sekarang sudah sulit menemukan universitas yang memiliki tujuan untuk mencetak intelaktual yang kritis dan memiliki sense terhadap realita sosial. Yang ada hanyalah individu yang hanya mengharapkan pekerjaan tanpa pernah berfikir tentang menciptakan sebuah lahan pekerjaan. Perguruan tunggi pun telah menjadi semakin kapitalistik dengan pemberlakuan BHP, dimana PT membebani masyarakat yang ingin mendapat pendidikan dengan biaya siluman yang tak jelas rimbanya.
Memang sedikit-banyak ideologi dan pemikiran seseorang mempengaruhi pola pikirnya terhadap idealisme yang dianut. Sebab ideologi dan idealisme adalah yang tidak dapat dipisahkan dimana keduanya menunjukkan hubungan searah yang sinergis. Yang menjadi perhatian saat ini adalah apakah masih ada intelektual yang memiliki idealisme yang mampu membela hak-hak rakyat. Saya banyak mengamati relitas sosial bahwa saat ini mahasiswa dalam melakukan studi hanya memiliki motivasi untuk mencari gelar saja. Amat sulit menemukan orang yang mencari ilmu karena tuntutan akan hausnya dahaga pengetahuan. Idealisme bagi seorang intelektual amatlah penting sebab idelismenya -lah yang akan menentukan ingin menjadi apa di kemudian hari. Idealisme pula -lah yang akan membentuk watak dan karakter intelektual. Sebuah idealisme ibrat bagaikan pakaian yang akan menentukan identitas sang intelektual dan idelisme pulalah yang akan melindunginya dari sengatan matahari sistem. Tapi bagaimanakah idelisme itu terbentuk dalam jiwa intelektual.
Membentuk idelisme adalah cara yang mudah namun untuk mempertahankannya adalah hal yang luar biasa sulit. Dengan kita ikut berbagai organisai akan memunculkan pikiran tentang cita-cita, gagasan, dan pemikiran dalam diri kita yang pada akhirnya akan membentuk suatu idealisme. Suatu idealisme tercipata dari dua hal : pertama, idealime terbentuk dari doktrin dan pemahaman yang diberikan dan ditanamkan oleh orang lain. Idealisme seperti ini cenderung pragmatis dalam menilai sesuatu dan idelisme seperti ini akan mudah untuk hilang semudah ia menerima pernyataan doktriner; kedua, idealisme yang berdasarkan pada pencarian yang sejati melalui tukar pikiran, membaca, dan mengamati relita sosial. Idealisme ini cenderung kuat dan mantap dalam perjuangannya. Sebab sang intelektual mengalami sendi dan merasakan realita yang telah membentuk idealismenya.
Bagian tersulit adalah bagaimana mempertahankan idelisme kita. Dalam dunia kampus sendiri banyak bermunculan ideolog dan pergerakan mahasiswa yang menampilkan idealisme yang berbeda. Satu sama lain memilik bentuk tersendiri yang unik dan pluralis. Melihat hal ini jangan sekali-kali kita berpikiran sempit dengan mengkotak-kotak kan antar kelompok. Hal itu justru malah akan mempersempit sudut pandang kita. Kaum intelektual akan menjadi orang yang parsial dan cenderung subyektif dalam hal menyikapi perbedaan sudut pandang.
Idealisme adalah sebuah hal yang paling mendasar bagi mahasiswa yang katanya seorang aktivis. Seorang idealis harus dapat mempertahankan idealismenya sampai mati. Sangat percuma jika ia semasa melakukan studi selalu berteriak menyuarakan aspirasi pada pemerintah. Namun setelah lulus ia malah masuk dalam sistem yang dahulu sering ia cerca. Ironis memang jika melihat hal tersebut. Namun kita harus realistis dalam menyikapi hal tersebut. Bagaimanapun seorang idealis tidak akan mampu bertahan sampai mati.
Langganan:
Postingan (Atom)