Semua Tentang Kita ...
Minggu, November 02, 2008
Dialog dengan Cermin
Assalamu'alaikum wa rohmatullohi Ta'ala wa
barokatuhu
Sahabats....apa yang ada dalam benak anda saat
anda bercermin....tentunya setelah membaca doa
bercermin, mari kita coba berdialog dengan yang
tengah anda pandang dalam pantulan cermin
anda...
" Hey wajah, apakah engkau ini kelak akan
bercahaya bersinar indah di sorga sana ? Atau
malah engkau ini akan hangus legam terbakar
dalam bara jahannam ?"
Lalu,
tatap mata kita, seraya bertanya," Hei mata,
apakah engkau ini yang kelak dapat menatap
penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Alloh
Yang Maha Agung, menatap keindahan sorga,
menatap Rasululloh Sholallohu 'alaihi wa salam,
menatap para Nabi, menatap kekasih kekasih
Alloh kelak ? Ataukah engkau ini yang akan
terbeliak, melotot, menganga, terburai, dan
meleleh ditusuk baja membara ? Akankah engkau
yang seringkali terlibat maksiat ini akan
menyelamatkan ? Wahai mata, apa gerangan
yang kau tatap selama ini...?
Tanyalah mulut kita ini, Apakah mulut ini yang
diakhir hayat nanti dapat menyebut kalimat
thoyibah, Laa ilaaha illallaah ? Ataukah akan
menjadi mulut berbusa yang akan menjulur julur,
menjadi pemakan buah zaqum yang getir
menghanguskan, dan menghancurkan setiap
usus ? Atau menjadi peminum lahar dan nanah
yang panas membara ? Saking terlalu banyaknya
dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka
dengan mulut kita ini...?"
" Wahai mulut, apa gerangan yang kau ucapkan?
Wahai mulut yang malang...betapa banyak dusta
yang engkau ucapkan! Betapa banyak hati hati
yang remuk dengan pisau kata katamu yang
mengiris tajam ! Berapa banyak kata kata manis
semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk
menipu beberapa orang ? Betapa jarangnya
engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut
nama Alloh dengan tulus ? Betapa jarangnya
engkau syahdu memohon agar Alloh
mengampunimu...?
Berdialoglah dengan diri ini," Hai... kamu ini anak
sholeh atau anak durjana? Apa saja yang telah
kamu peras dari orang tuamu selama ini ? Tetapi,
apa yang telah engkau berikan kepada keduanya,
selain menyakiti, membebani, dan
menyusahkannya ? Tidak tahukah engkau, betapa
sesungguhnya engkau adalah makhluk yang tidak
tahu membalas budi!."
" Wahai tubuh, apakah engkau kelak akan penuh
cahaya, bersinar, bersuka cita, bercengkerama
disorga sana ? Atau tubuh yang akan tercabik
cabik hancur mendidih didalam lahar jahannam,
yang akan terus terasa tanpa ampun, memikul
derita tiada akhir ?."
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang
engkau lakukan? Berapa banyak orang orang yang
engkau zalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak
hamba hamba Alloh yang lemah yang engkau
tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak
perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan
tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula
hak hak yang engkau rampas?."
" Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu?
Apakah tubuhmu sebagus kata katamu atau
malah sekelam kotoran kotoran yang melekat di
tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau
selemah daun daun yang mudah rontok? Apakah
hatimu seindah penampilanmu atau malah
sebusuk kotoran kotoranmu?."
Lalu ingatlah amal amal kita," Hai tubuh apakah
kau ini makhluk mulia atau menjijikkan? Berapa
banyak aib aib nista yang engkau sembunyikan
dibalik penampilanmu ini?."
" Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang
menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau
nafkahkan dijalan kebenaran? Bandingkanlah
dengan yang engkau gunakan untuk memenuhi
selera rendah hawa nafsumu!."
" Apakah engkau ini shalih atau shalihah seperti
yang engkau tampakkan? Khusyukkah sholatmu?
Dzikirmu, doamu...ikhlaskah engkau melakukan
semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang!
Ataukah engkau ini menjadi makhluk "riya" tukang
pamer?."
Sungguh! Betapa banyak perbedaan antara yang
nampak dicermin dengan apa yang tersembunyi,
betapa aku telah tertipu oleh " topeng "? Betapa
yang kulihat selama ini hanyalah " topeng ",
hanyalah seonggok sampah busuk yang
terbungkus " topeng topeng "duniawi .
Wahai sahabat sahabat sekalian...sesungguhnya
saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita
dapat mengenal dan menangisi diri ini.
Semoga kita dikaruniai hati yang istiqomah (
selalu lurus ) diatas kebenaran dan semoga kelak
kita kembali kepada Alloh membawa qalbun
saliim, hati yang selamat. Amin Wallahu'alam bish
showab.
Astaghfirulloohal'adziim Astaghfirulloohal'adziim
Astaghfirulloohal'adziim
Wassalamu'alaikum wa rohmatullohi Ta'ala wa
barokatuhu
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak
haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya
punya duit" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku
tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku
tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di
kemudian hari.
----------------------------------------------------------------------------------
-Ihsan Ahmad-
SURAT DARI SETAN UNTUK MU
Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas
harianmu. Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu.
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum
memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isya sebelum
berangkat ketempat tidurmu. Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku
menyukainya.
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak
merubah cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama dan aku masih belum
bisa benar2 mencintaimu. Malah aku masih membencimu, karena aku
benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah. Dia
sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu
sepanjang masa untuk mebalaskannya Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan
dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, dan aku akan membuat
kehidupanmu seperti neraka. Sehingga kita bisa bersama dua kali dan
ini akan menyakiti hati ALLAH
Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan
kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang
kita jalani.
Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong,
munafik, makan sekenyang-kenyangya , guyon2an jorok, bergosip,
menghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada
orang tua, tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.
Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku
memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana
berbuat dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong,
berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak.
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas
dosa-dosamu. Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal
sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap
melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.
Catatan : Jika kau benar2 menyayangiku , kau tak akan membagi surat
ini dengan siapapun.
MEMO FROM GOD
MEMO FROM GOD
To : All of You
Date : Saat ini
From : Penciptamu
Subject : Dirimu sendiri
Reference : Hidup ini
AKUlah penciptamu. Aku akan turut campur dalam
segala permasalahan hidupmu. Ingat, Aku tidak
membutuhkan bantuanmu.
Jika engkau menghadapi situasi sulit yang tidak
bisa engkau pecahkan, masukkan ke kotak
SFGTD (something for God to do)-mu. Semua
masalah akan terselesaikan, namun bukan
menurut ukuran waktumu tapi waktuKU.
Sekali engkau masukkan masalah ke dalam kotak
SFGTD-mu, engkau tidak perlu lagi melanjutkan
kekuatiranmu. Lebih baik engkau terjunkan dirimu
melanjutkan peran hidupmu saat ini.
Jika engkau terjebak kemacetan, jangan bringas.
Karena ada orang-orang yang memang ditetapkan
mendahuluimu untuk kepentingan yang
mengungkapkannya saja dia sudah tidak mampu.
Saat engkau merasa hari-hari di kantormu tidak
begitu baik, pikirkanlah orang-orang lain yang
keluar dari kantor beberapa tahun lalu
Ketika hubunganmu memburuk, pikirkanlah orang-
orang yang sudah lupa rasa mencintai dan dicintai.
Saat engkau masih bisa menggunakan waktu
akhir pekan untuk liburanmu; engkau masih lebih
beruntung dari wanita penjahit yang bekerja 12 jam
sehari, 7 hari seminggu demi anak-anaknya.
Saat mobilmu rusak, pikirkanlah orang yang
bahkan untuk berjalan saja dia sudah tidak mampu
lagi.
Ketika engkau berkaca di cermin merapikan
rambutmu, pikirkanlah orang yang sedang sakit
kanker yang selalu berharap rambutnya segera
tumbuh.
Ketika engkau merasa menjadi korban dari
kesalahan, kegetiran, pengabaian, ketidak-
nyamanan orang lain, ingatlah sesuatu atau
seseorang dapat saja salah, dan mungkin engkau
salah satunya.
Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai bahan
renungan agar senantiasa disamping kita selalu
berjuang menuju hidup yang lebih baik, kita selalu
mensyukuri hidup ini.
Akankah engkau sampaikan pesan ini ke kawan-
kawanmu? Jika ya, paling tidak engkau akan
menambah Penghuni Negeri Orang Bahagia.
Dua Pilihan
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat,
ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato
yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah
mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:
'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses
yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak
demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal
sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami
ini berlangsung dalam diri anakku? '
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.
Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak
seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari
lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari
bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang
anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir
mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan
anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam
tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan
untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan
dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya
yang cacat.
Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat
ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya
dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan.
Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan
dia bertanding pada babak kesembilan nanti'
Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim
dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan
dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang
gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.
Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih
ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan
bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya,
dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan
berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika
aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim
Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan
untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk
menjadi pemukul berikutnya.
Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan
untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka?
Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan
tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan
dengan bola itu.
Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher,
sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka
untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju
ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa
mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun
tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa
langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola
itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan
satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.
Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan
mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan
akan berakhir.
Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari
jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak,
"Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam
hidup Shay sebelumnya
ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun
dan membelalakkan matanya.
Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat
bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada
saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu
di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia
saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama
kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga
base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga
diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati
jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.
Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu
Shay"
Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya
dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay
menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton
yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!".
Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang
hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.
Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya,
para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan
nilai kemanusiaan kedalam dunia.
Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim
dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana
dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia,
dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan
sang pahlawan kecilnya.
Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara
mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.
Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun
bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali
ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam
hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu
di lingkungan pendidikan atau kerja.
Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan memilih
daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk
menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini
berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.
Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat
memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan
antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan
bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita
telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang
beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?
intisari :
Mungkinkan kita memberikan kebahagian pada org lain dengan kebahagian kita
hingga tak tersisa sama sekali........
-Ihsan Ahmad-
" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja...
"
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa
mengingat.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah
Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa”
pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun
ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru
kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini
dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin
sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah
artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan
cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku
ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak
akan pernah mengatakan apa-apa
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
" Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu
sedih ? "
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana .
Terbata-bata Ibu berkata,
" Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah
dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi
menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian.
Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.
Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa
jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha
untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang
masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu
dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera
putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,
" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu.
Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian
berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di
pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku
sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap
kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan
orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,
" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang
kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan
sesuatu. "
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang
wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk
"cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.
Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan
mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa
dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan
membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan
sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...
Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak
pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin
dimeja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu
sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya
lekat-lekat dan kuucapkan,
" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati,
ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu,
Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa
menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat
"aku sayang padamu... ",
namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta
yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu
dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan
bahagia.
Wallaahua'lam
"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan
khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia
sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil "
"Titip Ibuku ya Allah"
________________________________________
di ambil dari tulisan Heri Supriyadi.
"Seorang hamba justru bisa menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berpikir seperti itu karena yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan Allah kepadanya."
-Ihsan Ahmad-
Allah yang baik ...
Allah yang baik
senang deh aku sudah di sini tak ada lagi mama yang galak dan paman yang sering membentak
Allah yang baik
bolehkah aku bergabung dengan teman-temanku di sebelah
aku suka sekali lagu itu tapi tak pernah bisa menyanyikannya sepenuh hati karena sebelum ini, aku hanya bisa mendengar lagu itu dari balik dinding rumah sayup-sayup seperti memanggil-manggil untuk bergabung, bergembira tapi aku bukan burung yang punya sayap aku tak bisa terbang ya Allah, keluar barang sebentar dari rumahku yang pengap
Setiap pulang sekolah dan ayah sedang tak ada di rumah paman menyuruhku rebah kadang-kadang menghadapnya, kadang-kadang membelakanginya. lalu aku tak tahu apa yang dilakukannya
ya Allah tapi rasanya sakit sekali badanku sakit, tulangku sakit, pahaku sakit, mataku sakit, karena airmataku habis menahan jerit.
Allah yang baik,
aku kangen ibu, bukan mama, mama bukan ibu yang melahirkanku. mama adalah istri ayah yang baru yang lebih sayang pada anaknya sendiri bayi mungil yang lucu
aku sih sayang pada adikku itu, ya Allah, tapi aku takut, setiap kali aku mencium adik tangan mama mampir di wajahku, rasanya lebih sakit dari kejedot kusen pintu. setiap kali aku mencubit pipi montok adik tangan mama memuntir kupingku sampai hampir putus rasanya, ya Allah. mungkin satu kali pernah berdarah aku tak ingat lagi
Allah yang baik,
pernah satu kali mama membekap mulutku rapat-rapat aku seperti ikan di pasar, yang megap-megap ingin hidup aku menjerit memanggil-manggil ayah tapi mama semakin kencang mencekik leherku seperti film-film pembunuhan yang pernah kulihat di televisi. betul ya Allah, aku nggak bohong, lho. di sekolah aku
Tapi mungkin memang aku yang cengeng ya Allah, aku selalu menangis bila paman melakukan terus menerus perbuatannya yang membuatku sakit aku pernah berpikir untuk mengambil pisau dan menusuknya seperti pada sinetron-sinetron yang pernah kulihat. tapi aku tak pernah berani. bahkan ketika ayah sedang di rumah, dan memelukku pun, aku tak berani bercerita apa-apa kepadanya.
Di buku-buku cerita, aku lihat anak-anak seumurku selalu manja pada ayah dan ibunya mereka bisa naik pundak sampai menginjak kepala lalu tertawa-tawa bersama. lalu orangtua menggelitiki perut anak-anaknya menciumi sepuasnya-puasnya sampai si anak memang rasanya seperti hampir mati juga tapi mati karena rasa geli dan bahagia mengapa hal itu tak pernah terjadi padaku, ya Allah?
Apakah para penulis di buku-buku cerita itu berbohong, mereka hanya mengarang yang indah-indah saja? kalau begitu hukumlah mereka ya Allah karena membuat anak-anak sepertiku tambah sedih tak pernah merasakan apa yang mereka tulis di buku-buku itu.
Teman-temanku di sekolah selalu ngomong tentang pleistesyen dan boneka berbi, aku tak pernah iri lho, ya Allah. bener deh, suwer ! aku tak pernah iri soal mainan aku ingin hanya ada dua ciuman berbarengan dari mama di pipi kanan, dari ayah di pipi kiri kalau ayah pulang ke rumah, mama kadang-kadang mau tersenyum padaku, aku akui itu ya Allah, tapi tetap saja dia tidak pernah mau menciumku.
Aku ingin sekali ingin bercanda dengan mama dan adik kecilku yang lucu, apalagi kalau ayah sedang tidak di rumah. tapi selalu aku disuruh mama menemani paman,yang membuatku terus menjerit kesakitan.
Ya Allah,
kenapa mama tak pernah mengelus airmataku ketika aku kesakitan?
kenapa mama malah menampar wajahku berulang kali?
kenapa mama malah membekap mulutku begitu kencang?
kenapa mama malah mencekik leherku seperti teman-teman
mencekik belut sampai mati pada perlombaan tujuh belas agustus di sekolah?
Allah yang baik,
tapi sekarang aku gembira, suwer !
di sini banyak sekali teman-temanku yang bernyanyi riang.
bolehkah aku bergabung dengan mereka sekarang ya Allah, aku ingin sekali menyanyikan, "taman yang paling indah..." mumpung sedang nggak ada mama dan paman. boleh ya?
Oh iya, kalau Allah nggak keberatan sekalian panggil saja semua kawan-kawanku yang tak pernah menyanyikan lagu di rumah mereka dengan bahagia. Semua kawan-kawanku yang selalu menangis kesakitan.
biarkan kami semua bernyanyi di sini saja ya Allah, menyanyi bersama-sama, menari bersama-sama, tertawa bersama-sama, berpelukan bersama-sama, dorong-dorongan, pukul-pukulan, cubit-cubitan, lalu menyanyi lagi bersama-sama sambil bergandengan tangan.
boleh
oh iya, sebelum aku bergabung bersama teman-teman di
Allah bisa memanggilku Riska atau Rosi, atau dipanggil Ana juga boleh.
Dadah Allah,
aku mau ikut nyanyi dulu ya?
Allah nggak akan marah seperti mama, '
ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA
***
LUPAKAN sejenak kepedihan Lintar. Lihatlah kegemparan yang meledak di Perumahan Sengkang, Cilincing, Jakarta Utara, pada suatu pagi Senin dua pekan lalu. Warga menemukan pemandangan mengenaskan. Riska Rosiana, 7 tahun, meninggal di rumahnya dengan sebagian tubuhnya sudah dikerumuni semut. Di rumah petak itu pelajar kelas dua Madrasah Al-Islamiyah tersebut tinggal bersama ayahnya, Daeng Amran, 55 tahun, dan ibu tirinya, Idawati, 39 tahun, dan seorang adik tirinya yang berumur 14 bulan.
Riska meregang nyawa dengan kepedihan. Malam sebelum ia meninggal, ia diperkosa dan disodomi oleh adik ibunya, Ambo Ase, 25 tahun, di kamarnya. Tindakan sang paman membuat Riska menangis kesakitan. Gadi cilik ini membawa tangisnya ke ruang tamu. Bukannya bantuan yang datang, tangis itu justru membuat Idawati murka. Idawati naik pitam dan membekap mulut Riska dengan kain dan kemudian mencekiknya. Riska terdiam. Idawati, yang menyangka bocah perempuan itu sudah tertidur, segera meninggalkan Riska. Ia tak sadar, saat itu bocah
Kepada tetangganya, Idawati dan Amran, suaminya, yang baru pulang pada pagi hari, menyatakan Riska meninggal karena sakit. Tapi sejumlah warga yang curiga melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Polisi datang dan mengirim mayat itu ke RSCM. Dokter Mun'im Idris, pakar forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad Riska, memastikan: bocah
Idawati dan Ambo kini mendekam di tahanan Polsek Cilincing. Ambo mengaku perbuatan bejatnya itu sudah dilakukannya selama dua bulan. Saya sudah sepuluh kali memperkosa Ika, katanya. Idawati juga mengaku dirinya mencekik Riska. Karena tidak diam-diam, dia saya cekik dan mulutnya saya sumpel pakai kain, ujarnya. Polisi menjerat Ambo dan Idawati dengan pasal-pasal KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak dan menghilangkan nyawa orang. Ancaman terhadap pelaku perbuatan ini, penjara 15 tahun. Selain itu, ujar Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Dede Suryana, kedua orang ini akan dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.
Adapun jasad Riska kini sudah terbaring di kampong halaman ibu kandungnya di Desa Tanjungkerta, Indramayu. Sejumlah warga menancapkan pisau dan alu di atas kuburannya. Warga percaya arwah Riska akan menuntut balas. Gunakan pisau itu untuk membalas dendam, Nak. Balaskan kemarahan kami..., ujar sejumlah warga sambil menaburkan kembang di atas pusara Riska.
-Ihsan Ahmad-
-Sumber: Tempo, 16 Januari 2006-